TANDA-TANDA CINTA

Mengaku cinta dan mengklaim diri sebagai pencinta tentu sangat mudah.  Tp benarkah kita sudah mencintai-Nya atau justru kita lebih mencintai selainNya namun tetap sj mengaku seorang mukmin ?
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah.  Adapun orang-orang yang beriman, sangat besar cintanya kepada Allah … “ (QS 2 : 165)
Kita memang tak menyembah selainNya, tapi seringkali lebih mementingkan hubungan dengan yang lain (pekerjaan, keluarga dll) daripada mendahulukan dan menjaga hubungan kita denganNya. Sudah saatnya bercermin siapakah diri ini sebenarnya, apakah seorang pencinta atau hanya bisa mengaku sebagai pencinta saja ? seorang mukmin sejati atau hanya mengklaim diri sebagai mukmin ?
Berikut indikatornya :
1.       Menjual jiwa kepada Allah
Ia hanya akan marah karena Allah, ridho karena Allah, berani karena Allah, memberi karena Allah, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah. (insyaAllah contohnya lain kali)
2.       Selalu melaksanakan ketaatan dan meninggalkan larangan
Orang yang mendengar seruan adzan, tapi tidak mau datang ke masjid tanpa ada udzur, atau menunda shalat karena sibuk nonton teve atau yg lain, maka jelas ia tidak cinta kepada Allah.  Orang yang meninggalkan al Qur’an, tidak membaca dan merenunginya, lebih menyukai membaca majalah atau koran, maka ia tidak cinta kepada Allah.  Orang yang lebih suka bergaul dengan yang berakhlak buruk daripada orang shalih, maka ia juga tidak mencintaiNya.  Orang yang enggan melaksanakan amalan-amalan sunnah, pdhl ia sehat dan memiliki keleluasaan waktu, lebih suka melalukan yang tak bermanfaat dan membuang waktu percuma, maka sebenarnya ia tidak mencintai Allah.
Dalam kitab Madariju ‘s Salikin, Ibnul Qoyyim menyebutkan sepuluh indikasi cinta kepada Allah. Salah satunya adalah membaca al Qur’an dan merenunginya.  Karenanya jika kita melihat seseorang mencintai mushaf dan begitu menikmati membacanya (mentadaburi, tdk skdr memperindah bacaan), maka ia termasuk orang-orang yang mencintai Allah, karena al Qur’an adalah kalamullah.  Berinteraksi dengan al Qur’an berarti berbincang dan berkomunikasi dengan Allah.
3.       Banyak berdzikir
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS 13 : 28)
“Karena itu, ingatlah kepadaKu, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu” (QS 2 : 152)
Rasulullah SAW : “Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena digunakan untuk dzikrullah”
Manusia yang tidak mau berdzikir dan sedikit menyebut nama Allah, maka ia serupa dengan orang munafik yang disebutkan dalam firmanNya :
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.  Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.  Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS 4 : 142)
4.       Mengagungkan syiar-syiar agama Islam
Diceritakan bahwa Ibrohim bin Adham pernah masuk ke sebuah pasar, lalu mendapatkan selembar kertas terserak di tanah, padahal di dalamnya tertulis kata “Allah”. Maka beliau pun berkata “Ya Allah, Maha Suci Engkau dari terinjak namaMu.  Demi Allah, aku akan membersihkan nama-Mu”.  Lalu beliau mengambilnya dan membersihkannya, kemudian menggantungkannya.  Ketika tidur, beliau mendengar seseorang mengatakan padanya ”Wahai orang yang telah membersihkan nama Allah, sungguh Dia akan membersihkan namamu”.  Allah pun mengangkatnya menjadi salah seorang yang ternama.
Orang-orang meminta kepada Sa’id bin Musayyib, ketika beliau sedang sakit, agar berkenan menyebutkan kepada mereka hadits Rasulullah SAW, lalu beliau berkata ‘Tolong dudukkan aku”.  Mereka berkata, “engkau ini sedang sakit”, lalu beliau menjawab “Apakah nama Rasulullah akan disebutkan, sementara aku hanya terbaring?!”
Imam Malik pernah menyampaikan di Masjid Nabawi, lalu beliau disengat kalajengking sehingga wajahnya nampak mulai berubah.  Ketika telah selesai, ditanyakan pada beliau “Apa yang terjadi dengan Tuan ?”  Beliau menjawab, “Aku disengat kalajengking.”  Mereka berkata “Kenapa Tuan tidak memotong
(menghentikan terlebih dulu) penyampaian hadits?”  Beliau menjawab “Apakah aku hendak memotong hadits Nabi hanya demi seekor kalajengking?”
Semoga kita bisa mengambil manfaat dan pelajaran darinya.
Sumber : Pesona Cinta oleh ‘A’idh al-Qorni (koleksi pribadi)

No Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL


Leave a Reply

*

  • Categories

  • Archives

Skip to toolbar