Nasihat Syamith bin ‘Ajlan

“Sesungguhnya seorang Mukmin akan mengatakan kepada jiwanya, ‘Sesungguhnya, kehidupanmu hanyalah tiga hari. Telah berlalu hari kemarin beserta peristiwa yang ada di dalamnya dan esok adalah sebuah harapan yang boleh jadi engkau, wahai jiwa, tidak akan mendapatkannya. Ia adalah harimu. Apabila engkau termasuk penghuni hari esok maka Pemilik hari esok akan datang dengan rezeki hari esok, namun jika esok hari tidak ada lagi siang dan malamnya, berarti para jiwa akan mati pada hari itu. Dan, boleh jadi engkau adalah di antara yang mati pada saat itu. Setiap hari telah cukup dengan kekhawatirannya. Kemudian, engkau membawa kekhawatiran waktu, tahun, abad kepada hatimu yang lemah, membawa kekhawatiran nilai murah atau mahal, tiba serta kekhawatiran musim panas sebelum muslimnya datang. Lalu, apa yang tersisa dari hatimu yang lemah ini untuk akhirat? Surga tidak akan menuntut hal demikian. Kapankah engkau akan menghindar dari Api Neraka? Setiap hari ajalmu berkurang, namun engkau tidak merasa bersedih. Engkau telah diberi kecukupan, namun engkau malah meminta yang lebih. Engkau tidak puas dengan yang sedikit dan tidak merasa cukup dengan yang banyak. Bahkan sungguh sangat mengherankan, mengapa bisa orang yang menyakini adanya negri Akhirat, terkuras habis tenaganya untuk meraih negri fatamorgana (dunia)’.” (Shifatu Ash-Shafwah: II/339)

No Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL


Leave a Reply

*

  • Categories

  • Archives

Skip to toolbar